Samsat Nganjuk: Kantor Negara yang Berubah Jadi Sarang Peras Rakyat
NGANJUK – Ada yang sangat busuk di Unit Pelayanan Samsat Nganjuk. Tempat yang seharusnya melayani hak rakyat yang sudah membayar pajak justru berubah menjadi ladang pemerasan sistematis, di mana hukum diinjak, aturan diabaikan, dan warga dijadikan sapi perah.
Tarif Resmi Hanya Hiasan, Biaya Gelap Jadi Kunci Pelayanan
Aturan negara seolah tak berdaya di sini. Warga dipaksa membayar tarif gelap yang berlipat ganda:
- Cek fisik & administrasi: dipatok Rp50.000–Rp150.000;
- Validasi STNK 5 tahunan: diganjar "biaya percepatan" Rp100.000–Rp200.000;
- Ganti plat nomor: harus bayar hingga Rp250.000 jika tak ingin berkasnya "hilang".
Lebih kejam lagi: siapa yang taat aturan dan menolak bayar gelap, dia yang dihukum. Berkas dikatakan kurang lengkap, antrean dimainkan, atau diusir seenaknya. "Kami bayar pajak milyaran rupiah ke negara, tapi di kantor negara sendiri kami diperas seperti penjahat," keluh warga dengan nada gemetar.
Calo Dijadikan Tangan Kanan, Oknum Diduga Berbagi Hasil
Pungli ini tidak mungkin berjalan sendiri tanpa perlindungan tingkat tinggi. Calo bergerak leluasa dari pintu gerbang hingga ruang loket, berinteraksi dengan isyarat rahasia petugas, seolah mereka adalah pegawai resmi. Tak ada kuitansi, tak ada bukti—uang langsung masuk kantong pribadi, sementara kas negara tak sepeser pun mendapatkannya. Ini bukan sekadar kelalaian, ini sengaja diatur dan dijaga.
Melanggar Semua Aturan, Tapi Mengapa Tetap Berjalan?
Praktik ini adalah penghinaan terang-terangan:
✅ Menabrak aturan resmi Korlantas dan Ditjen Pajak;
✅ Membual pada janji Zona Integritas;
✅ Menghina Kode Etik Polri;
✅ Jelas masuk kategori pemerasan dan pengkhianatan amanah.
Diusik Fakta, Pintu Ditutup Rapat: Bukti Ada yang Ditakuti
Ketika media datang membongkar kebusukan ini, pimpinan Samsat Nganjuk malah lari bersembunyi. Tak satu pun berani menampakkan wajah, tak satu kata berani diucapkan. Sikap bungkam ini bukan tanda tidak tahu—ini adalah pengakuan diam-diam bahwa mereka tak berani membuka apa yang tersembunyi di balik meja layanan.
Apakah mereka menutup mulut karena takut membongkar jaringan di atasnya? Atau karena keuntungan pungli ini sudah dinikmati sampai ke pucuk pimpinan?
Tuntutan Keras: Jangan Cuma Tangkap Calo Kecil
Kami menuntut Kapolres Nganjuk dan Bapenda Jatim:
Jangan main-main! Jangan cuma tangkap calo lapangan lalu menyebut kasus selesai. Telusuri siapa yang melindungi, siapa yang membagi hasil, dan siapa yang membiarkan rakyat diperas setiap hari.
Selama belum ada tindakan nyata, Samsat Nganjuk tetap dicatat sebagai tempat di mana pengkhianat amanah berkuasa, dan hak rakyat dijual dengan harga mahal.